Menurut MUI, Kata “Cerai” Terucap Belum Berarti Talak

 

Dalam suatu rumah tangga sering kali terjadi perselisihan antara suami dan isteri yang sesekali terucap kata “cerai” dari salah satu pihak karena terbawa emosi.

Sebagian pihak menilai, terutama mereka yang sudah berusia lanjut, kata cerai yang diucapkan ini sudah berartikan talak. Sehingga, begitu kata “cerai” diucapkan tiga kali, maka sudah talak tiga yang secara tidak langsung keduanya sudah tidak sah menjadi suami isteri.

Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Palembang, Saim Marhadan, mengatakan “cerai” yang diucapkan oleh suami atau isteri harus dilihat dari kondisinya.

Jika kata tersebut diucapkan saat masing-masing pihak dalam keadaan emosi tinggi, cerai yang terucap bukan serta merta sudah diartikan sebagai talak.

“Sesuai hadits Rasulullah, cerai yang tidak dinyatakan sebagai hal yang serius adalah saat dalam keadaan marah atau emosi, dalam keadaan bermimpi, atau dalam keadaan pengaruh minuman keras. Hal ini dikarenakan karena pihak yang mengucapkan kata cerai dalam keadaan tidak sadar,” kata Saim, saat dihubungi melalui ponselnya Selasa (8/9/2015).

Dikatakan dalam keadaan sadar, lanjut Saim, adalah saat masing-masing pihak sudah tidak lagi dipengaruhi emosi. Misal, saat terjadi pertengkaran antara suami dan isteri, emosi keduanya sudah mereda.

Di saat emosi stabil, salah satu dari mereka ada yang mengucapkan cerai, barulah bisa dikatakan sebagai talak. Namun, jika masih dalam emosi tinggi, cerai yang diucapkan tidak ada arti apa-apa.

Niat Cerai yang sudah serius, masih kata Saim, bisa dilihat apakah salah satu dari mereka sudah membuat laporan di Pengadilan Agama.

Laporan sudah diterima, pihak pengadilan akan mengutus tim mediasi yang mengarahkan masing-masing pihak untuk membatalkan cerai.

Proses ini bisa memakan waktu tiga bulan, jadi sekadar mengucapkan cerai belum tentu sudah diartikan sebagai talak.

“Jadi, ada kesalah pahaman jika nikah kembali karena mengucapkan cerai berulang-ulang. Cerai sudah diartikan sebagai talak andai udah dilaporkan ke pengadilan, bukan hanya sebatas ucapan,” tegas Saim.

Bahkan, lanjutnya, pasangan yang merasa tidak pernah dinafkahi lahir batin dalam waktu yang lama belum bisa dikatakan dirinya sudah diceraikan.

Selagi dirinya tidak membuat laporan di pengadilan, maka yang terjadi bukan semacam talak. Jadi, cerai yang diakui agama dan negara, tidaklah hanya sebatas ucapan saja

Meski demikian, Saim menyarankan supaya masing-masing pihak jangan terlalu mudah mengucapkan kata cerai. Jika ada suatu permasalahan, hadapi dengan kepala dingin dan jangan mengikuti hawa nafsu.

Emosi yang membuat kontrol diri berkurang merupakan pengaruh setan yang terkadang membawa manusia membuat keputusan yang merugikan di masa akan datang.

Selain itu, masih kata Saim, cerai merupakan salah satu dari sekian banyak perbuatan yang dibenci Rasulullah. Untuk itu, hindarilah cerai dan jalanilah kehiduan rumah tangga dengan rukun hingga maut menjemput.

“Masalah dalam masing-masing rumah tangga akan selalu ada. Mari sikapi setiap masalah dengan kepala dingin dengan tidak mengikuti emosi yang bisa mengurangi akal sehat,” kata Saim.

Sumber: tribunnews.com