Sejarah

Kisah Keberanian Soeharto Menembus Medan Perang Untuk Bantu Muslim Bosnia

 

Sjafrie saat itu mengaku takut juga. Terlebih Soeharto tidak berkenan mengenakan helm baja serta rompi anti peluru.

“Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja,” ujar Soeharto pada Sjafrie.

Soharto hanya mengenakan kopyah dan jas. Sjafrie juga saat itu mengenakan kopyah, tujuannya untuk mengecoh para penembak jitu yang mungkin sedang mengincar orang nomer satu di Indonesia tersebut.

Suasana mencekam. Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk menembak jatuh pesawat terbang terus bergerak mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden Soeharto.

“Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” beber Sjafrie.

Selepas berhasil medarat, ketegangan masih berlanjut. Rombongan Soeharto harus melewati Sniper Valley, sebuah lembah yang menjadi medan pertarungan para penembak jitu Serbia dan Bosnia. Ini adalah sebuah tempat yang menyeramkan, karena sudah tak terhitung nyawa melayang karena baku tembak.

Pak Harto memang berada dalam panser yang disediakan PBB saat melewati wilayah menyeramkan itu. Meski di dalam panser jenis VAB, kondisi tidak mutlak aman. Akan tetapi, Soeharto nampak santai dan tenang selama perjalanan.

Presiden Soeharto akhirnya tiba ditujuan. Kondisi Bosnia saat itu sungguh memprihatinkan. Tidak ada air bersih, hingga untuk mendapatkan air harus mengambil dengan ember.

Presiden Bosnia Herzegovina Alija Izetbegovic menyambut hangat kedatangan Presiden Soeharto. Dia benar-benar bahagia Soeharto tetap mau menemuinya walaupun harus melewati bahaya.

Sjafrie sempat menanyakan motif Soeharto nekat mendatangi daerah konflik yang sangat berbahaya. Ia merasa heran kenapa orang sekelas Soeharto berani mengambil resiko dengan mengenyampingkan keselamatan diri.

“Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok,” jawab Pak Harto.

Soeharto menyatakn jika tujuannya untuk membangkitkan semangat warga Bosnia.

“Ya itu bisa kita kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka jadi tambah semangat,” ucap Soeharto.

Kata-kata Presiden Soeharto tersebut sangat membekas dibenak Sjafrie. Bahkan setelah puluhan tahun, ia menyatakan masih ingat betul kata-kata tersebut.

“Kalimat yang diucapkannya bermuatan keteladanan yang berharga bagi siapa pun yang hendak menjadi pemimpin,” tutup Sjafrie.

Sumber: suratkabar.id

Related Articles

Back to top button