Inilah Beberapa Penyebab Istri Dominan Dalam Rumah Tangga

 

Walau idealnya peran suami dan istri seimbang, namun peran suami yang dominan masih bisa diterima masyarakat dibandingkan istri yang dominan.

Sebutan “suami takut istri” disematkan kepada seorang suami yang dalam kesehariannya selalu menuruti apa yang dikatakan istri, takut bila istrinya marah, menyerahkan berbagai keputusan dalam rumah tangga kepada istrinya, dan lainnya yang semacam itu. Dominasi istri dalam rumah tangga diyakini menempatkan suami dalam posisi tak nyaman.

Mengapa Istri Mendominasi?
Psikolog Yulia Wahyu Ningrum, S.Psi, M.Psi, Direktur Biro Psikologi Mata V Hati, Samarinda, Kalimantan Timur, membeberkan ada beberapa karakteristik wanita yang biasanya dominan, yaitu mandiri, egois, percaya diri tinggi, keras kepala. Namun, di sisi lain, bisa juga labil secara emosi sehingga sering merajuk.

Dominasi istri bisa dilatarbelakangi oleh banyak hal. Di antaranya:

Pertama, pola asuh istri yang di dalam keluarganya sang ayah kurang berperan dalam masa tumbuh kembang dia.

Ibulah yang berperan untuk semua urusan keluarga, sementara ayah seolah tak campur tangan, kecuali sekadar memberi nafkah. Pola inilah yang akan ditiru anak kelak saat mereka berkeluarga.

Kedua, trauma masa lalu akibat perlakuan ayah yang kejam dan semena-mena kepada ibu. Trauma ini membuatnya tidak percaya kepada laki-laki dan akan bersikap keras kepada laki-laki atau suami untuk menghindari penindasan ayahnya terhadap sang ibu terulang kepada dirinya.

Ketiga, kelebihan-kelebihan yang dimiliki istri dibanding suami. Misalnya, strata ekonomi keluarga istri yang lebih tinggi dibanding suami, tingkat pendidikan yang lebih tinggi, karier yang lebih cemerlang, penghasilan yang lebih tinggi, dan sebagainya.

Keempat, karakter pemimpin yang dimiliki istri. Ada orang yang memang punya bawaan jadi leader dan ternyata diterapkan juga dalam keluarganya, termasuk kepada suaminya.

Kelima, sifat pencemburu dan posesif. Dalam batas wajar, cemburu memang diperlukan dalam relasi suami istri. Namun bila rasa itu telah mengarah posesif, tentu jadi berlebihan. Segala tingkah laku suami diawasi sehingga sangat membatasi ruang gerak suami.

Selain itu, masih banyak sebab lain yang membuat seorang istri jadi dominan. Diakui Yulia, yang juga bertugas di Dinas Kesehatan Kaltim ini, latar belakang yang seperti itu memang belum tentu menjadikan seorang istri lebih dominan daripada suami.

Ada sikap suami yang kemudian berpotensi mendorong istri bersikap demikian, antara lain, rasa rendah diri suami, rasa takut kehilangan istri, ingin membahagiakan istri, pernah melakukan kesalahan dan sebagainya.

Dominasi seorang istri pada beberapa kasus ternyata juga bisa disebabkan keterpaksaan. “Hal ini terjadi kala suami tidak mampu menjadi imam bagi rumah tangga sepenuhnya,” jelas Yulia.

Misalnya, suami yang memang menyerahkan semua urusan keluarga kepada istrinya, kecuali memberi nafkah saja. Termasuk juga suami yang jarang pulang, bahkan dalam hitungan bulan dan tahun.

Oleh: Asmawati
Wawancara: Nur Fitriyani

Sumber: ummi-online.com