Keluarga

4 Kali Nikah-Cerai, Wanita Anak Raja Kapal Ini Buktikan Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan

 

Saat meninggal pada November 1988, umurnya baru 37 tahun. Sebagai anak raja kapal, kekayaan orang tuanya berlimpah. Namun, ia tidak pernah menerima cinta kasih yang tulus.

Orangtuanya terlalu sibuk dengan diri sendiri dan perkawinannya sering gagal, karena ia tidak pernah belajar mencintai dan dicintai. Rupanya memang benar bahwa kekayaan yang berlimpah itu tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Berikut tuturan L.J. Davis dalam Onassis, Aristotle and Christina.

***

Anak perempuan berumur 2,5 tahun itu mengayunkan botol sampanye ke arah kapal, sedangkan kakaknya yang berumur 5 tahun memijat tombol.

Kapal tangki terbesar di dunia (waktu itu) pun meluncur ke air di Pelabuhan Hamburg, Jerman, diiringi tembakan meriam dan sorak-sorai para pejabat Jerman dan ribuan orang lain.

Nama anak perempuan itu Christina, sedangkan kakaknya Alexander. Kapal tangki itu milik ayah mereka, Aristotle Onassis, sedangkan nama kapal itu Tina Onassis, meniru nama ibu mereka.

Christina dan Alexander sama sekali tidak merasa peristiwa itu istimewa. Soalnya, ayah mereka raja kapal, kakek mereka dari pihak ibu raja kapal juga, begitu pula paman-paman mereka.

Bonekanya Berbaju Dior
Alexander lahir tanggal 30 April 1948 dan Christina 11 Desember 1950. Saat Alexander lahir, ibunya baru berumur 17 tahun, tetapi ayahnya sudah 41 tahun.

Karena lahir di AS, Alexander dan Christina mendapat kewarganegaraan AS, tetapi ayah mereka, orang Yunani kelahiran Turki itu, selalu bepergian dengan paspor Argentina.

Aristotle Onassis memang banyak bepergian untuk mencari dan mempertahankan uangnya yang menggunung. Tina sebagai anak orang kaya yang bersuamikan orang kaya pula, sering masuk koran dan majalah seperti teman-teman sepergaulannya. la sering tampak di Paris, St. Moritz, maupun New York. Jadwalnya penuh.

Tina yang lahir dan dibesarkan di Inggris, merasa perlu mendidik anaknya secara orang Inggris kaya, yaitu dengan diserahkan kepada pembantu. Bukan sembarangan pembantu tentu saja.

Orang yang melihat anak-anak Onassis merasa kagum, sebab boneka milik Christina umpamanya memakai pakaian rancangan terakhir Dior. Christina dan kakaknya, memiliki kuda tunggang yang bagus sekali, hadiah dari raja Arab Saudi. Kelihatannya mereka memiliki segala-galanya yang biasa diimpikan oleh anak-anak. Namun, mereka merasa tidak bahagia.

Seperti Manusia Planet Lain
Saat berumur tiga tahun Christina pernah mogok bicara. La dibawa ke dokter-dokter ahli yang paling top di Zurich, Swis. “Hal itu biasa terjadi pada anak-anak yang terlalu dilindungi,” kata dokter.

“Nanti juga sembuh sendiri.” Namun, Tina juga diberi tahu bahwa anak yang mogok bicara seperti Christina biasanya anak yang marah sekali dan berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian orang tuanya.

Sebenarnya Christina memang marah sekali. Betul fisiknya terawat bersih dan rapi, tetapi para pelayan yang merawatnya tidak memberinya kasih sayang.

Pada saat itu ia menghadapi masalah yang membutuhkan kehadiran serta perhatian orangtuanya, mereka selalu tidak ada. Karena ia tertutup dan sering marah-marah tak keruan, para pembantu tambah tidak suka kepadanya. Kakaknya pun jadi tidak suka bermain dengannya.

Kalau sedang berada di salah sebuah rumah ayahnya di Athena, Christina diurus oleh adik ayahnya, Artemis, yang bersuamikan Prof. Theodore Garofalidis.

Bibi Artemis tidak mempunyai anak. Ia wanita kuno, tetapi hanya Artemislah yang berusaha menciptakan kehidupan rumah tangga yang normal bagi anak-anaknya.

Alexander diserahkan oleh Onassis kepada seorang kepercayaannya, Costa Koutsouvelois yang harus menjadi pengiring Alexander, penjaga, dan guru. Alexander tidak mempunyai banyak teman, tetapi itu pun sudah lebih banyak daripada teman Christina.

Sejak umur 9 tahun Alexander ngebut denganspeedboat. Entah sudah berapa speedboat ia hancurkan. Tidak pernah terpikir oleh Onassis bahwa tindakan gila-gilaan itu dilakukan Alexander hanya untuk menarik perhatiannya.

Sejak kecil Onassis sudah menanamkan pada sanubari kedua anaknya bahwa dunia ini curang dan serakah, namun mereka unik, mereka dihargai orang karena mempunyai banyak uang. Uang itu berkuasa.

Kedua anaknya lantas mengacaukan pengertian kekuatan harta dengan kemampuan diri. Mereka tidak bisa membedakan dorongan hati dan akal sehat. Mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui kehidupan seperti yang dituntut oleh manusia lain, sehingga mereka seperti hidup di planet lain.

“Yang kita anggap semua orang tahu, ia tidak tahu. Yang tidak dialami oleh orang lain, mereka mengalaminya,” kata seorang teman Christina.

Bapak Nyeleweng, Ibu Juga
Saat itu hampir semua yang disentuh Onassis menjadi emas. Selain itu kenalannya banyak, mulai dari mantan PM Winston Churchill sampai Robert Kennedy, dari anak raja Arab sampai Putri Gracia dari Monaco.

Bukan berarti Onassis itu tidak peduli sama sekali pada anak-anaknya. Suatu saat ia bisa membanjiri mereka dengan pernyataan cinta kasih, kekaguman, dan hadiah, tetapi di saat lain ia memaki-maki, mengecilkan, dan menghina anaknya, terutama Alexander.

Ada hal lain yang membuat anak-anak itu risau. Onassis sering menyeleweng. Istrinya yang muda itu membalas.

Mula-mula Tina puas berpacaran dengan para instruktur skinya yang tampan-tampan, lalu ia juga akrab dengan Reynaldo Herrera, jutawan minyak Venezuela yang tampan dan lebih muda daripada Tina. Walaupun jutawan, dibandingkan dengan Onassis, harta Herrera kecil.

Setiap kali ada berita tentang penyelewengan orangtua mereka di koran, Alexander dan Christina merasa malu.

Tahun 1956, ketika Onassis berumur 50 tahun dan istrinya 26, tampaknya pernikahan mereka sudah di ambang keruntuhan. Onassis tidak mau kalau istrinya keburu meninggalkan dia. Harus dia yang lebih dulu meninggalkan istrinya dan mendapat pengganti yang lebih hebat.

Saat itu, manusia hidup yang paling terkemuka di Yunani ada dua: Aristotle Onassis dan penyanyi soprano yang reputasinya terkenal di seluruh dunia: Maria Callas.

Cuma saja Maria Callas sudah mendekati umur 40. Apalagi ia juga istri Giovani Meneghini, yang tidak lain dari manajer Callas dan juga seorang industrialis kaya, walaupun dibandingkan dengan Onassis kekayaannya tidak berarti.

Onassis berusaha mengambil hati Callas, dengan memborong karcis pertunjukannya untuk dibagikan kepada teman-teman terkemuka, untuk mengundangnya ke kapal pesiarnya, Christina.

Lama-kelamaan Maria Callas pun terpikat dan berpisah dari Meneghini, sedangkan Tina yang sedang berpacaran dengan Reynaldo Herrera, buru-buru pergi membawa kedua anaknya ke New York, ke salah sebuah rumah ayahnya.

Menangis Setahun
Ari memberi kesan seakan-akan Tina menculik kedua anak-nya. Tina tidak tinggal diam. Ia mengundang wartawan ke konferensi pers.

Ketika itu bulan November 1959. Ia mengumumkan bahwa ia memutuskan untuk bercerai dari Onassis yang merupakan salah seorang terkaya di dunia. Ia juga tidak sudi menerima bagian dari harta Onassis.

Perceraian terjadi tahun I960 berdasarkan alasan kekejaman mental. Nama Maria Callas tak disebut-sebut. Sementara itu Herrera, pacar Tina, buru-buru menghilang.

Seorang teman Christina bercerita. “Kata Christina, setelah orangtuanya bercerai, ia menangis setiap malam selama kita-kira setahun. Kalau melihat bagaimana wajahnya waktu itu, pasti ia tidak berbohong.”

Kemudian Tina tinggal di Paris. Christina menuntut pelajaran di Cours Victor Hugo di kota itu. Tina mencoba berlaku seperti ibu-ibu lain, yaitu berjalan kaki mengantar Christina ke tempat belajar, lalu menjemputnya pulang ke apartemennya di Avenue Foch. Mungkin Tina disuruh oleh ayahnya, Stravos Livanos. Orangtua itu sangat memperhatikan keluarga.

Seingat Christina, ia bahagia sekali waktu itu karena diantarjemput ibunya. Namun, kesenangannya tidak lama. Tina bukan jenis wanita yang bisa menghibur diri dengan menjadi ibu.

Baik Tina maupun Aristotle Onassis (yang mendapat hak untuk berkunjung sesering yang ia mau) tampaknya tidak begitu peduli pada perkembangan Christina. Christina tetap sering marah-marah, tetapi suka menyendiri.

Alexander bisa meluangkan waktu dengan lebih anteng. Ia asyik dengan kereta api listrik mini dan kapal-kapal listrik miliknya yang boleh dilayarkan di kolam renang kapal pesiar milik ayahnya, Christina.

Tahu Dari Koran
Pada umur 16 tahun, Alexander tidak lulus dari sekolah menengah. Pada tahun itu juga ia kepergok mencuri dari toko. Buat apa sih anak Onassis mencuri arloji di bandara kalau bukan untuk menarik perhatian ayahnya?

Ayahnya saat itu masih terlalu sibuk membangun citra dirinya. Stravos Niarchos, ipar Onassis (ia suami kakak Tina) dan juga saingan usahanya, memiliki P. Spetsopoula. Ia tidak mau kalah. P. Skorpios ia dandani.

Sementara itu Tina, mantan istrinya, telah menikah lagi dengan pria Inggris berumur 35 tahun, yaitu John George Vanderbilt Henry Spencer Churchill yang bergelar Duke of Blanford, dan merupakan putra sulung Duke of Marlborough, pemilik Puri Blenheim yang termasyhur itu.

Tina menikah dengannya setahun setelah bercerai dari Ari dan tanpa permisi dulu kepada anak-anaknya.

Alexander mengetahui pernikahan ibunya dari koran. Ia lantas tidak mau berbicara dengan ibunya, kecuali kalau terpaksa sekali.

Namun, ibunya senang menjadi Lady Blandford dan tetap tidak mempunyai waktu untuk anak-anak. Christina yang sedang bersekolah di Hewitt School, di New York, dibawa ke Inggris. Ia dimasukkan ke sekolah berasrama di Heathfield, tempat ibunya dulu bersekolah.

Seorang temannya di sekolah itu heran, karena Christina yang tidak bodoh itu ternyata pengetahuannya minim sekali. Apa saja yang selama ini ia pelajari di sekolah-sekolah mahal? Alexander saat itu belajar di Paris.

Mimpi Ayah-Ibu Rujuk
Sementara itu konon Onassis sering cekcok dengan Maria Callas yang berumur 41 tahun di kapal pesiarnya yang merupakan tempat tinggal mereka.

Callas itu sungguh berbeda dengan Tina. la menunjukkan minat dan keenceran otaknya dalam menanggapi cerita Ari tentang bisnis. la juga tidak suka keluyuran ke mana-mana, apalagi berbuat serong. Namun, kalau Callas mengusulkan agar mereka menikah, Ari bilang anak-anaknya belum setuju.

Ketika wanita itu hamil, Ari berhasil membujuknya untuk menjalani aborsi. Sementara itu Alexander dan Christina berharap semoga wanita yang mereka benci itu kelak ditinggalkan ayah mereka, semoga ibu mereka bercerai dari Blanford dan mudah-mudahan ayah dan ibu mereka bersatu kembali.

Saat itu Alexander dan Christina sudah tidak mau lagi mengungkapkan isi hati mereka di hadapan ayah maupun ibu mereka, sebab kedua orangtua mereka mempunyai kebiasaan memakai keterangan mereka untuk menyerang mereka sewaktu-waktu.

Ketika Christina berumur 16 tahun, ia pernah minta izin untuk bekerja selama liburan di Olympic Airways milik ayahnya. Christina sangat pemalu dan bahasa Yunaninya payah sebab ia bersekolah di Amerika, Prancis, dan Inggris. Namun, rupanya ayahnya cukup puas dengan prestasinya.

Berbeda dengan Alexander, Christina tampaknya tertarik pada bisnis perkapalan. Hal itu tidak luput dari pengamatan Ari, sehingga ia sering berkata, “Putra saya seharusnya menjadi putri saya dan putri saya seharus menjadi putra saya.” Tentu saja Alexander makin tidak suka dekat-dekat adiknya.

Sementara itu Tina rupanya sudah bosan menjadi Lady Blanford. Ia menderita phlebitis dan juga tidak bisa tidur tanpa obat.

Kalau kebetulan Alexander berkunjung ke ibunya yang sedang berada di Prancis Selatan, ia biasa membuangi pil-pil tidur milik ibunya, tetapi Tina selalu memperoleh lagi yang baru.

“Ia tidak normal. Ia neurotik, dan tidak mempunyai pegangan,” komentar Fiona Campbell Thyssen, pacar Alexander.

Ketika Tina sudah bercerai dari Blanford, dalam hati Christina dan Alexander timbul lagi harapan bahwa keluarga mereka akan bersatu kembali.

Sayangnya, pada saat keadaan mulai membaik lagi, tiba-tiba Aristotle Onassis mengumumkan kepada anak-anaknya bahwa ia akan menikah lagi. Wanita yang akan dinikahinya itu bukan pula Maria Callas, tetapi Jackie Kennedy, yang sudah menjadi janda dan merupakan pujaan dunia.

Christina Merasa Terancam
Kegunaan Maria Callas bagi Onassis rupanya sudah berakhir. Onassis merasa perlu mendahului Tina yang mungkin akan cepat mendapat jodoh lagi.

Tahun 1963, sebelum Presiden Kennedy dibunuh, Jackie kematian bayinya, Patrick. Adik Jackie, Lee, bercerita kepada Onassis bahwa Jackie mengalami depresi.

“Ah, kenapa tidak berlayar dengan Christina saja supaya keadaannya pulih?” kata Onassis. Lee menyampaikan undangan itu. Jackie yang merasa tidak betah di Gedung Putih menerimanya.

Ketika Presiden John Kennedy terbunuh di Dallas, Onassis yang sedang berada di Jerman cepat-cepat terbang ke Gedung Putih.

Jackie tidak mau bertemu siapa-siapa, tetapi setelah peristiwa itu Ari menjadi teman yang simpatik baginya.

Onassis pernah menerbangkan Jackie ke Palm Beach dengan pesawat jet pribadinya. Christina hadir juga di pesawat itu. Bulan berikutnya Onassis membawa Jackie dengan kapal pesiarnya ke Karibia.

Kemudian Jackie termasuk salah seorang tamu yang ia jamu di New York. Tamu lainnya ialah penari balet termasyhur Dame Margot Fonteyn, Rudolph Nureyev, dan Christina.

Saat itu Christina sudah mencium bahwa ayahnya naksir janda presiden. Tentu saja ia tidak setuju. Begitu pula teman baik Onassis, Costa Gratsos. Menurut pendapat Gratsos, wanita itu membawa sial.

Alexander tidak curiga apa-apa, sebab ia selalu berusaha jauh-jauh dari ayahnya. Cuma ada satu orang yang menyokong Onassis, yaitu adiknya, Artemis.

Robert Kennedy meminta agar iparnya jangan membuat tindakan mencolok sebelum pemilihan presiden, tetapi ia keburu tewas ditembak pada bulan Juni 1967.

“Saya benci Amerika. Mereka membunuh-bunuhi Kennedy, berarti anak-anak saya merupakan sasaran nomor satu,” kata Jackie pada seorang ajudan iparnya. “Saya ingin keluar dari negara ini.”

Robert Kennedy yang dulu meminjamkan kekuatan dan rasa proporsional kepada Jackie, kini sudah tewas. Yang bisa ia mintai tolong cuma Aristotle Onassis. Ari dipanggil. Ia segera datang dengan jetnya, membawa Christina.

Christina berusaha memperburuk situasi dengan terus-menerus menempel pada ayahnya dan menunjukkan sikap sebal kepada semua orang.

Untuk Gengsi
Alexander belum pernah bertemu dengan Jackie dan secara pribadi tidak berkeberatan. Cuma saja ia sewot karena baru diberi tahu dua hari sebelum pernikahan. Kata ayahnya, Jackie akan mengangkat gengsi mereka. Ia ‘kan mencerminkan kelas tinggi yang berbudaya.

Setelah diberi tahu bahwa ayah mereka akan menikah dengan Jackie, Alexander dan Christina lantas keluar dari vila ayah mereka untuk ngebut di jalan-jalan Kota Athena selama berjam-jam.

Alexander tidak mau hadir dalam upacara pernikahan ayahnya di P. Skorpios. Baru setelah Fiona Thyssen menganjurkannya, Alexander datang.

Christina juga tidak mau datang. Onassis minta bantuan adiknya, Artemis. Katanya, mereka mesti muncul sebagai satu front, untuk menandingi keluarga Kennedy yang mungkin akan menemani Jackie. Artemis berhasil menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya.

Tanggal 20 Oktober 1968 pernikahan dilangsungkan di P. Skorpios. Mantan istri Onassis, Tina, mempertontonkan rasa tidak peduli dengan sengaja berburu burung di Inggris.

Christina muram saja, sedangkan Alexander berkata kepada wartawan, “Ayah saya perlu istri. Saya sih tidak perlu ibu.”

Seperti Callas, Jackie tidak berusaha keras untuk mendekati anak-anak tirinya. Padahal kalau Christina yang tabiatnya sulit itu mendapat sedikit kasih sayang yang dibutuhkannya, mungkin mereka bisa dekat.

Jackie pernah juga mengajak Christina berbelanja, namun keduanya sama-sama tak menikmati.

Kabur Saat Pertunangan Akan Diumumkan
Alexander menjuluki Jackie si Geisha, sedangkan bagi Christina Jackie adalah si Nyonya Besar.Sebagai gadis Yunani, Christina tidak diharapkan meniti karier. Ia harus menjadi ibu rumah tangga.

Keadaan fisiknya tidak menguntungkan. Walaupun ia sudah menjalani bedah plastik untuk meluruskan hidungnya dan menyamarkan lekuk dalam di bawah matanya. Christina mudah melar, sedangkan rambutnya yang tebal itu sulit diurus.

Kalau selera Jackie terhadap pakaian sangat halus, tak demikian dengan Christina. Selain itu karena ia gemuk, pakaian-pakaian Yves St. Laurent yang dipilihkan oleh ahli pun tidak tampak anggun dipakainya. Tindak-tanduknya pun kurang halus.

Sebenarnya dalam hal ini Jackie bisa memberi pelajaran. Pengetahuannya banyak dan Jackie tahu sekali seni bercakap-cakap. Namun, Jackie dan Christina tidak memanfaatkan kesempatan itu. Christina yang mestinya bisa dijadikan teman, makin lama makin membencinya.

Hubungan Christina dengan ibunya pun tidak dekat. Jackie sebaliknya, dekat dengan anak-anaknya.Tidak heran kalau Christina sering merasa depresi. Ia lari ke makanan, minuman ringan, dan pil untuk membuatnya merasa gembira. Sebetulnya gawat kalau diingat ia juga minum pil pengurus tubuh.

Ketika Christina merayakan ulang tahun ke-18, ayahnya memberinya perhiasan seharga AS $ 50.000 dalam sebuah syal.

Saat itu sudah dipikirkan siapa yang kira-kira pantas jadi jodohnya, yaitu Peter Goulandris dari keluarga raja kapal juga. Tahun 1970 itu Peter Goulandris berumur 22 tahun. Sayangnya, Christina menganggapnya menjijikkan.

April 1970, ketika pertunangan mereka akan diumumkan, Christina kabur ke tempat ibunya di Prancis Selatan. Ayahnya tidak memaksa, soalnya saat itu Ari sendiri sedang puyeng menghadapi Jackie yang boros dan konon “dekat” dengan seorang pengacara AS.

Sejak itu Ari sering bertemu Callas di rumah teman-teman mereka.

Jatuh Cinta Pada Mantan Ipar
Tanggal 3 Mei 1970, Eugenie Niarchos, kakak Tina, meninggal. Saat itu Niarchos sudah bercerai dari putri Henry Ford dan kembali ke istri tua. Ada tanda-tanda kekerasan di tubuh Eugenie, sehingga diduga ia dibunuh Niarchos (Christina yakin demikian). Ada lagi yang yakin ia kebanyakan obat tidur.

Tina datang untuk menghibur Niarchos. Rupanya ia lantas jatuh cinta pada mantan iparnya itu.

Christina merasa risau. la tidak mau ibunya menikah dengan Paman Niarchos, pembunuh Bibi Eugenie. la pergi mengadu ke kakaknya, Alexander, di Prancis Selatan.

Alexander membawa adiknya ke hadapan ibu mereka. “Jika Ibu menikah dengan Stravos Niarchos, saya tak mau bicara lagi dengan Ibu. Jangan harap bisa menemui saya lagi dalam keadaan hidup,” katanya.

Tina menyangkal berniat menikah dengan mantan iparnya. Christina lantas mengumumkan ia akan ke Jerman untuk masuk klinik tempat menguruskan diri.

Tahu-tahu saja ia sudah ada di Kalifornia dan tanggal 26 Juli 1971, Christina Onassis menikah dengan Joseph Robert Bolker, seorang pengusaha realestat berumur 47 tahun (27 tahun lebih tua daripada Christina) yang pernah bercerai.

Ari Kalap
Saat itu ayahnya sedang merayakan ulang tahun ke-42 Jackie di P. Skorpios. Begitu mata-matanya mengabarkan lewat telepon, ia kalap. Jackie belum pernah melihat suaminya mengamuk seperti itu.

Buru-buru ia menjauh, padahal menurut aturan main di keluarga Yunani, ia harus mendekat dan menjadi pendukung suaminya. Akibatnya, suaminya merasa Jackie bukan istri, cuma wanita yang tak ada puasnya, yang tinggal di rumahnya dan menghamburkan uangnya.

Onassis mengancam takkan memberi warisan bagi Christina (Ia lupa hukum Yunani dan AS tidak memungkinkan hal itu).

Bolker pertama kali bertemu dengan Christina di Hotel de Paris di Monte Carlo. Christina hampir tidak pernah bertemu orang yang baik, keculi Fiona Thyssen dan beberapa orang lagi.

Ia selalu curiga pada orang, tetapi ia percaya pada Bolker. Ketika Bolker kembali ke AS, ia sering menyurati Bolker, menceritakan kesulitannya menghadapi ayahnya.

Suatu kali Christina menelepon dari London. la ingin Bolker datang segera. Christina bilang ini soal hidup dan mati. la sedang mengalami depresi.

Bolker terbang ke London. Kata Christina, ayahnya menjodohkan dia dengan Mick Flick, pewaris Daimler-Benz. Ia tidak mau. (Menurut sumber yang bisa dipercaya, tak mungkin ayahnya menjodohkan Christina dengan orang bukan Yunani. Justru Christina yang naksir Flick).

“la memerlukan orang kepercayaan, penasihat, pembimbing yang memiliki pengalaman hidup,” kata Bolker. Ketika ia kembali ke AS, Christina menelepon lagi.

“Bolehkah saya berkunjung kepadamu?” tanyanya. Bolker ragu-ragu, tetapi menjawab ya. Christina datang. Bolker menasihati Christina agar menghubungi ibunya kalau menghadapi kesulitan dengan ayahnya. Christina menelepon ibunya di London. Ibunya minta berbicara dengan Bolker.

“Anda ingin menikah dengan anak saya?” tanya Tina.”Oh, tidak. Tidak. Saya tidak berniat menikah.”

“Kalau begitu, kirim Christina dengan pesawat berikutnya. Saya tak mau anak saya tinggal dengan orang yang tidak akan menikahinya.”Christina tidak mau pergi. la histeris sehingga Bolker memanggil dokter. Akhirnya, jadi juga Christina menikah dengan Bolker. Jill, putri Bolker, menjadi saksi.

Empat Anak Tiri
Christina pun menuntut hidup seperti yang belum pernah dikenalnya. Di apartemen suaminya cuma ada satu pembantu. la belajar menyesuaikan diri, seperti imigran yang hidup di negara lain.

la minta karyawan suaminya mengajarinya pembukuan dasar untuk mencatat anggaran belanja. Ternyata ia sangat cepat mengerti. Ia menyiapkan sarapan untuk suami, berbenah, belanja.

“Kadang-kadang ia juga bisa lucu dan hampir mendekati impiannya, menjadi wanita biasa yang menuntut hidup biasa,” kata Bolker.

“Hatihya baik,” kata kenalan mereka waktu itu. “Ia mencoba menjadi ibu tiri yang baik bagi empat putri Joe yang hampir sebaya dengannya. Ia bermain dengan mereka kalau mereka berkunjung.

“Namun, lama-kelamaan ia bosan. Christina tidak bisa mengerti mengapa Bolker harus pergi bekerja setiap hari dan tak bisa bersamanya sepanjang hari. Ia tidak bisa mengerti mengapa orang kaya Kalifornia mau bersusah-susah memelihara sayuran organik sebagai hobi atau membuat perabot rumah sendiri.

Perlahan-lahaan depresinya timbul lagi. Ia juga suka sembunyi-sembunyi seperti ayah dan kakeknya. Joe tidak siap menangani suasana seperti itu.

Christina mencoba belajar di UCLA, tetapi ia terlalu kaya untuk mau bersusah-susah melakukan sesuatu. Selain itu sejak semula Bibi Artemis sering menelepon. “Mengapa kau tega selalu menyusahkan keluarga?” sesalnya.

Tanggal 22 Oktober 1971 Tina, ibu Christina, menghilang. Christina, Alexander, dan nenek mereka Ny. Livanos, kebingungan. Bolker mendapati istrinya berteriak-teriak kalap tanpa bisa dibujuk, sehingga terpaksa dibawa ke rumah sakit.

Mereka masih merayakan malam tahun baru dengan Ronald Reagan di rumah keluarga Bloomingdale, lalu Christina pulang ke Eropa.Tanggal 4 Februari 1972 Christina mengajukan permintaan cerai dari Joseph Bolker.

“Pekerjaannya memaksa ia tinggal di Kalifornia dan saya harus berjauhan dari keluarga saya. Saya tidak tahan. Ia akan segera menjadi mantan suami saya, tetapi ia akan tetap menjadi teman terbaik saya. Saya terlalu Yunani dan ia terlalu Beverly Hills.” Saat itu umurnya 22 tahun.

Jangan Siksa Dia Lagi
Awal Januari 1973 Aristotle Onassis menyatakan kepada putranya ia akan menceraikan Jackie. Alexander lega, walaupun di pihak lain ia tetap khawatir akan nasib ibunya yang sudah menjadi Ny.Niarchos.

Maklum Tina kecanduan obat bius dan phlebitisnya makin parah. Diam-diam Alexander berniat melanjutkan belajar supaya bisa membuktikan ia mampu.

Tanggal 22 Januari 1973, Christina di Brasil ditelepon temannya. Alexander luka parah dalam kecelakaan pesawat. Pilot pesawat Piaggio itu dan seorang penumpang lain juga cedera tetapi akan segera sembuh, namun Alexander tak bisa dikenali, kecuali dari sulaman di pakaiannya.

Walupun Onassis khusus memerintahkan pesawat Lear jet-nya menjemput ahli bedah otak Inggris paling terkemuka, usaha itu sia-sia. Alexander belum mati, tetapi ia hanya bisa hidup seperti tanaman dengan bantuan mesin-mesin.

“Biarkanlah anak itu meninggal. Jangan siksa dia lagi,” kata Aristotle Onassis. la minta dokter menunggu kedatangan Christina dulu, lalu ia pulang ke vilanya untuk menyendiri.

Dari rumah sakit, Christina pergi ke tempat ayahnya, namun ayahnya tampak tak peduli. Sejak bercerai, ia mencoba setengah mati untuk menyenangkan ayahnya, tetapi tampaknya ayahnya belum bisa memaafkannya.

Onassis seperti tak mau berpisah dari jenazah putra tunggalnya, tetapi akhirnya “putra mahkota” Onassis itu dimakamkan juga di P. Skorpios.

Untuk pertama kalinya uang tak berhasil menghibur hatinya. Ia pikir, kalau dulu ia lebih dekat pada anaknya, mungkin nasibnya lain.

Sementara itu Christina yang tidak bahagia karena ditolak ayahnya makin lama makin tertekan dan makin gemuk. Ia lebih risau lagi ketika pria yang ditaksirnya, Mick Flick, ternyata tidak berniat menikah dengannya.

Akibat Obat Bius
Kesehatan Ari mundur. Cuma Christina yang setia mendampinginya. Ari tahu Christina punya otak. Ia menyuruh Christina belajar tentang manajemen kapal dan mengharuskan putrinya itu hadir dalam rapat-rapat seperti dulu ia menyuruh Alexander. Belajar menjadi pengusaha kapal memang tidak mudah, tetapi Christina mau.

Agustus 1974 Christina menghilang. Ia masuk rumah sakit dengan nama palsu karena kebanyakan pil tidur. Saat itu keadaan ibunya juga buruk.

Sesudah kematian Alexander dan Christina masuk rumah sakit, ia makin terdorong lagi minum obat penenang. Tanggal 10 Oktober 1974 Tina Livanos Onassis Blandford Niarchos ditemukan tewas di salah satu rumah Niarchos yang megah di Paris.

Christina meminta jenazah ibunya diautopsi. Ternyata Tina tewas akibat paru-paru berair yang diperparah oleh ketergantungannya akan obat bius, bukan dibunuh Niarchos.

Kematian ibunya tambah merisaukan Christina. la jadi sering ribut mulut dengan ayahnya.Saat itu Onassis masih berenang 1,5 km setiap hari, tetapi orang tahu ia tidak sehat. La juga menghadapi kesulitan dengan perusahaan penerbangannya dan pemerintah Yunani.

Di AS, untuk menunjukkan kepada umum bahwa ia kekurangan uang, Jackie melelang sebagian perabot rumah tangganya. Tahu-tahu ia ditelepon, suaminya pingsan di Athena. Ia datang membawa ahli jantung, Dr. Isidore Rosenfeld.

Suami Sakit, Istri Jalan-jalan
Dari pemeriksaan diketahui Ari menderita radang paru-paru dan batu empedu. Adik-adik perempuannya ingin Ari dirawat di vilanya, tetapi Dr. Caroli, seorang ahli hati dari Prancis, ingin Ari dibedah supaya kandung empedunya yang meradang bisa dibuang.

Dr. Rosenfeld bilang, kondisi pasien lemah. Lebih baik dirawat dulu di rumah sakit di New York, tetapi Jackie bersikeras agar suaminya dirawat di Paris.

“Asal tahu saja, saya bakal mati di sana,” kata Ari kepada orang kepercayaannya di kantor. la minta bawahannya itu berjanji untuk berjuang melawan Niarchos demi Christina.

Jackie, Artemis, Christina, Dr. Caroli, dan Ari menumpang Lear jet ke Paris. “Saya merasa sangat dekat kepada Alexander sekarang,” kata Ari kepada dokternya. “Anda tahu saya tak bakal keluar dalam keadaan hidup dari rumah sakit.

“Ari masuk ke American Hospital di Neuilly lewat pintu kamar mayat. Kandung empedunya diangkat, tetapi Dr. Rosenfeld benar. Pasien tak meninggal tetapi harus tergantung pada mesin. Kulitnya menjadi kuning dan keadaannya mundur.

Christina dan Artemis berjaga bergantian di sebelahnya. Kalau Onassis melek, salah seorang di antaranya ada di sisinya.

Jackie sudah biasa menangani tragedi. Lama-kelamaan ia cuma datang sehari sekali. Ia sempat makan bersama seorang teman di restoran dan mengunjungi museum, menonton bioskop, berbelanja, menata rambutnya, dan dipotret sambil tersenyum dengan presiden Air France.

Di Avenue Foch Jackie tinggal berdua dengan Christina. Segera ia memindah-mindahkan perabot supaya lebih sedap dipandang. Christina sebal. Ia pindah ke Plaza Athenee di seberang.

Christina memanggil Peter Goulandris, yang dulu dijodohkan ayahnya dengannya. Sambil berpegangan tangan ia mengumumkan mereka akan menikah. Ia ingin memberi hadiah terakhir pada ayahnya.

Walaupun memerlukan cuci darah segala, keadaan Ari menjadi stabil. Dokter bilang, ia bisa bertahan demikian berbulan-bulan. Jackie pun pulang ke New York.

Saat itulah Maria Callas diterima masuk ruangan untuk mengucapkan selamat tinggal. Jackie ternyata tidak pulang-pulang dari New York. Pada akhir minggu berikutnya ia ditelepon, keadaan suaminya tiba-tiba memburuk.

Aristotle Socrates Onassis meninggal 15 Maret 1975 dengan didampingi putrinya. Istrinya seperti biasa berada di tempat lain.

Setelah upacara pemakaman di P. Skorpios, dari Athena Jackie terbang ke Paris untuk pergi ke penata rambutnya. Kemudian ia kelihatan menonton adu banteng.

Jackie “Dibeli” AS $ 26 Juta
Di perusahaan Onassis mulai terjadi perang saudara di antara para pembantu dekatnya. Selain itu ada kemungkinan Jackie juga ingin menuntut bagian lebih banyak dari perjanjian pernikahan dari yang ingin diberikan oleh Onassis.

Mulailah para pengacara Christina sibuk, mengurusi harta peninggalan Tina Niarchos maupun Aristotle Onassis untuk klien mereka.

Hubungan Christina dengan Peter Goulandris juga rapuh. Mereka tak jadi menikah. Bibinya, Artemis, buru-buru menyodorkan putra raja kapal lain, Alexander Andriadis, yang sebetulnya tak becus apa-apa dan juga punya pacar.

Ia menikah dengan Christina karena ayahnya sedang perlu uang. Jackie hadir untuk memberi kesan tak ada apa-apa antara ia dan anak tirinya.

Urusan dengan pengacara berjalan terus seperti juga rebutan kekuasaan di perusahaan Onassis. Akhirnya, tahun 1976 Christina bisa “membeli” Jackie dengan AS $ 26 juta dan ia memerintahkan nama Kennedy tak lagi disebut di depannya.

Alexander Andriadis tak betah lama menjadi suaminya. Apalagi Christina tidak mau memberi uang yang sedang dibutuhkan sang mertua. Perceraian diresmikan tahun 1977.

Anehnya, setelah bercerai Christina masih sering datang kepada mantan suaminya. Soalnya, ia cuma kenal sedikit saja orang yang bisa dipercaya.

Christina mencurahkan perhatian pada bisnis kapalnya dan menunjukkan kemampuan yang tak memalukan sebagai putri Onassis. Ia sudah membeli pabrik pengilangan minyak di AS dan menjadi presdir Olympic Maritime.

Ia bahkan bisa melakukan pendekatan pada pihak Rusia untuk merayu Rusia agar mau mencarter kapal tangki mereka.

Pria Bergigi Emas
Dalam bisnis, Christina bertemu beberapa kali dengan salah seorang wakil Sovfracht (perusahaan kapal carter Rusia) yang bertugas di Paris, Sergei Danielovitch Kauzov.

Kauzov yang berumur 35 tahun itu punya istri dan seorang putri. Ia 5 cm lebih pendek daripada Christina dan rambutnya yang pirang itu sudah menipis. Giginya dilapisi emas dan sebelah matanya palsu. Mata palsu itu kadang-kadang ia copot di muka umum. Walaupun tidak tampan, ia menarik dan pandai bergaul.

Christina jatuh cinta dan kalau ia jatuh cinta tidak bisa menyembunyikannya. Koran Inggris Daily Express yang paling senang gosip itu menyebutkan Kauzov sebagai kolonel dan anggota KGB yang bertugas sebagai mata-mata.

Walaupun gajinya cuma AS $ 235 seminggu, kelihatannya ia selalu punya uang untuk makan-makan dan memberi tip dengan royal.

Christina yang sedang jatuh cinta ternyata menjadi langsing. Rambutnya digunting pendek. Ia dan Kauzov sering tampak bergandengan bahkan juga di Brasil. Mana mungkin Kauzov bisa ke sana tanpa izin “dari atas”?

Para pimpinan Olympic jadi seperti cacing kena abu, karena bos mereka terpikat orang Rusia. (Konon kata Christina, Kauzov tak terkesan oleh hartanya!) Bagaimana kalau informasi perusahaan mereka bocor? Bagaimana kalau Sovfracht mencaplok kapal-kapalnya?

Tanggal 15 Desember 1976, Kauzov meninggalkan Paris lalu lenyap. Christina kebingungan. Istri dan anak Kauzov pun menyusul ke Moskwa, lalu tak kembali.

Related Articles

Back to top button